Showing posts with label jatilan masa kini. Show all posts
Showing posts with label jatilan masa kini. Show all posts

Wednesday, March 5, 2014

Kesenian Jathilan jogyakarta

Kesenian jathilan "Dhulang Cempaka"
Bugisan,Kecamatan Prambanan,Klaten


Kesenian Jathilan, nama kesenian ini mungkin hanya populer di kalangan masyarakat Yogyakarta dan Jawa Tengah. Tapi jika menyebut nama “jaranan” atau “kuda lumping”, maka ada banyak daerah termasuk di luar Jawa yang mengenalinya sebagai bentuk kesenian sekaligus tradisi yang dimainkan oleh sekelompok laki-laki   yang menari di atas kuda tiruan dari anyaman bambu.Dulu semasa kecil sekitar tahun 1988 setiap hari Jumat pagi aku selalu melihat kesenian ini,karena kesenian jathilan ini selalu pentas yang selalu disaksikan para touris mancanegara yang sudah berlangganan.saya senang sekali melihat kesenian ini karen salah satu dari pemain ini adalah orang tuaku.saat itu hiburan atau pertunjukan masih begitu jarang tidak kaya jaman sekarang yang sudah banyak acara telivisi,internet dan bayak media lainnya kesenian jathilan ini berdiri dibawah kepemimpinan Mantan  Lurah Desa Bugisan yang sudah menjabat Lebih Dari 2 Periode,yaitu Bapak Haji Hasim Asmawi yang sekarang telah wafat dan diwariskan kepada salah satu anak kepercayaanya yaitu Bapak Ngatno.Nah Bapak Ngatno ini adalah orang tua saya,dimana dia dulu juga menggantikan kakek saya yg sudah umur,kakek saya dulu peneri jathilan karena umur sudah tua dia menjadi penabuh gamelan dan sekarang kakek saya ini sudah almarhum sejak 4 tahun yang lalu kurang lebihnya.
 
sewaktu saya masih duduk dibangku sekolah menengah Umum,aku sempat mengikuti acara kesenian jathilan ini hingga aku mendapatkan pekerjaan aku masih mengikutinya.tapi waktu itu penonton/penanggap bukanlah touris Mancanegara lagi melainkan acara acara hajatan dari desa ke desa lainnya.


 Foto di atas salah satu kenangan saya watu lebaran saya pulang kampung dan mengikuti kesenian jathilan tersebut sewaktu diundang ke acara tasyakuran anak yamg masih satu desa dengan kami yaitu didesa Bugisan.

Ada banyak versi nama kuda lumping di berbagai daerah. Jika nama Jathilan lekat di Yogyakarta, maka di Banyumas dan Kebumen kesenian kuda lumping ini dikenal dengan nama Ebeg. Di Boyolali kesenian ini sering disebut Jelantur, sementara di Magelang nama Jaranan banyak digunakan. Di beberapa tempat di wilayah Yogyakarta sendiri ada beberapa kesenian lain yang mirip dengan Jathilan yakni Incling di Kulon Progo dan Ogleg di Bantul,di Prambanan banyak yang bilang kesenian ini adalah kuda Lumping.


Kesenian Jathilan sering dimainkan secara semi kolosal dengan melibatkan belasan hingga puluhan penari laki-laki  yang beberapa di antaranya memainkan karakter tertentu. Yang menarik dari Jathilan adalah bentuk tariannya yang meski dianggap monoton tapi justru terasa dinamis karena setiap gerakannya sangat kuat dan berkarakter. Meski memiliki beberapa perbedaan dalam hal kostum dan variasi gerakan tari, namun hampir semua bentuk kesenian kuda lumping termasuk Jathilan memiliki kesamaan mendasar dalam beberapa hal yakni bentuk tarian yang menggambarkan keperkasaan menyerupai prajurit perang, tarian yang terdiri dari beberapa babak dimainkan bergantian oleh kelompok penari  pria serta klimaks pertunjukkan yang ditandai dengan “trance” yang dalam istilah Jawa disebut “ndadi” atau “kesurupan”. Anehnya ditempat saya mempunyai kelebihan nyakni sewaktu kesurupan tidak bisa menularkan/nyatrum kemain yang sedang ditubruk/dikejarnya,karena katanya yang merasukinya bukan sejenis hewan katanya roh lain yang didapat dari puasanya kuda kepang ini.

Kesenian jhatilan Bugisan

karena jathilan bugisan ini sudah menurunkan atau mewariskan 2 kelompok kesenian jathilan yaitu di Kebondalem Lor dan Berbah.Dimana daru kedua kelompok yang sudah diwariskan itu banyak sekali yang sudah dimodifikasi menjadi kesenian jathilan yang sudah modern dari segi musik,pakaian,tarian bahkan ada yang menampilkan anak - anak.