Sejarah Tari Kuda
Lumping
Sangat sulit menemukan sumber catatan sejarah yang
menjelaskan tentang asal muasal tarian ini, hanya dari cerita rakyat yang
diturunkan dari generasi ke kegenarasi. Namun ada 2 cerita rakyat yang berhasil
penulis dapat, yaitu :
Versi 1
Bahwa tari kuda lumping menggambarkan kisah seorang pasukan
pemuda cantik bergelar Jathil penunggang kuda putih berambut emas, berekor
emas, serta memiliki sayap emas yang membantu pertempuran kerajaan bantarangin
melawan pasukan penunggang babi hutan dari kerajaan lodaya pada serial legenda
reyog abad ke 8.
Versi 2
Kesenian Kuda Lumping berasal dari daerah Ponorogo Jawa
Timur. Menurut sebuah legenda, Raja Ponorogo selalu kalah dalam
peperangan. Sang raja masygul dan gundah. Akhirnya ia pergi ke sebuah
pertapaan. Ketika sedang khusu-khusunya memohon kepada Dewa Jawata Sang
Marasanga, ia dikejutkan oleh suara tankatingalan. Suara itu ternyata
wangsit dari Sang Jawata. Isinya apabila raja ingin menang perang, ia harus
menyiapkan sepasukan berkuda. Ketika pergi ke medan perang, para
prajuritpenunggang kuda itu diiringi dengan "bande" dan rawe-rawe.
Konon, bande dan rawe-rawe itu menggugah semangat menyala
membabi buta di kalangan para prajurit penunggang kuda. Ketika bertempur
mereka mabuk tidak sadarkan diri tapi dengan semangat keberanian yang luar
biasa menyerang musuh-musuhnya. Demikianlah dalam setiap peperangan para
prajurit bergerak dalam keadaankalap dan memenggal kepala musuh-musuhnya dengan
kekuatan yang tangguh. Akhimya. lasykar Raja selalu memperoleh
kemenangan.
Untuk menghormati Dewa sang pemberi wangsit dan
memperingati kemenangan demi kemenangan kemudian setiap tahun
diadakan upacara kebaktian dengan suguhan acara berupa tarian menunggang
kuda-kudaan yang menggambarkan kepahlawanan, sebagai suatu prosesi dari
prajurit penunggang kuda yang kalap dan menyerbu musuh-musuhnya.
Selanjutnya tarian menunggang kuda-kudaan itu berubah menjadi sebuah
kesenian yang digemari masyarakat. Tarian itu kemudian diberi nama Kuda
Lumping.
Tari kuda
lumping merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran sebuah pasukan
berkuda atau kavaleri. Hal ini terlihat dari gerakan-gerakan ritmis, dinamis,
dan agresif, melalui kibasan anyaman bambu, menirukan gerakan layaknya seekor
kuda di tengah peperangan.
Di Jawa Timur terdapat di beberapa daerah, seperti jamban,
kolong jembatan, rel kereta, dan daerah-daerah lainnya. Dan seperti halnya
tarian lain yang ada di Indonesia kuda lumping biasanya ditampilkan pada
ajang-ajang tertentu, seperti menyambut tamu kehormatan, dan sebagai ucapan
syukur, atas hajat yang dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa.
No comments:
Post a Comment