Sejarah kesenian Jathilan atau kuda kepang
Kesenian jathilan
Dulang cempaka Bugisan Prambanan Klaten
Saksikan video - video kami lewat You tube yang sudah di Upload Oleh teman teman saya.
Cerita Ini Mungkin Bisa menjadi gambaran bagi anda yang mau membaca untuk menambah sedikit pengetahuan tentang kesenian yang ada di Indonesia.
kesenian Jathilan
atau kuda lumping adalah salah satu jenis kesenian yang populer di
daerah pedesaan terutama di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kata jathilan
tersusun dari kata Ja penyingkatan dari kata jaran (kuda), thi penyingkatan dari kata cemethi (cambuk), dan lan
penyingkatan dari kata lancur (aksesoris dari bulu ayam). Kesenian
jathilan yang merupkan seni tarian yang harus mempunyai tiga unsur yaitu
jaran (kuda lumping), cemethi atau cambuk, dan lancur.
Jaran
atau sering disebut jaran kepang terbuat dari anyaman bambu yang
dibingkai dan dibentuk menyerupai kuda. Agar terlihat menarik jaran
kepang dicat mirip kuda yang sebenarnya. Supaya penampilan mirip dengan
kuda sebenarnya bagian depan ditambahkan ijuk sebagai aksesoris yang
mirip dengan bulu kuda dan bagian belakang ditambahkan ijuk yang
menyerupai ekor kuda. Dalam pementasan jathilan, jaran seolah sebagai
tunggangan para penarinya. Konon untuk menambah magis pada kuda kepang
pada anyamannya diselipi jenis bambu cluring.
Cemethi
atau cambuk merupakan salah satu unsur yang cukup menghidupkan
pertunjukkan jathilan. Ibarat kuda yang berlari, kuda lumping juga
memerlukan cambuk sebagai pemacu kuda agar berlari dan memberi kesan
dramatis pada pertunjukkan tersebut. Sebagai pembawa cambuk harus
mempunyai keahlian khusus dalam mencambuk para penari. Jika seseorang
sudah ahli, suara cambuk yang membahana tidak sedikitpun membuat sakit
para penarinya. Sebagai rahasianya suara cambuk yang keras hanya jika
bergesekan dengan udara, bukan mengenai kaki atau badan penarinya.
Sebaliknya, jika pemegang cambuk belum ahli maka yang terjadi adalah
babak belur yang diderita oleh setiap pemain jathilan.
Lancur
adalah bagian bulu ayam jantan yang indah terutama diambil dari
ekornya. Lancur dipasang pada topi para pemainnya. Helaian bulu ayam
yang warna-warni akan terlihat indah jika para penari
melenggak-lenggokkan kepalanya. Selain dipasang di topi, lancur juga
dipasang pada ujung atas angklung yang merupakan salah satu unsur
instrumen musik jathilan.
Perangkat Musik Jathilan
Musik jathilan terdiri beberapa musik
tradisional yang diharmonisasikan menjadi alunan musik yang dapat
mengiringi keindahan tarian jathilan. Musik jathilan terdiri dari bendhe
atau canang, kendang, angklung, dan bem (terban yang cukup besar).
Cerita dan Tarian Jathilan
Tarian dalam jathilan mengandung unsur
cerita yang akan disampaikan pada para penonton. Pada umumnya cerita
diambil dari Babad Kediri (Cerita Panji), kisah Ramayana, dan ada juga
yang mengambil cerita Aryo Penangsang. Cerita yang terkandung di
dalamnya memiliki unsur peperangan antar dua kelompok pasukan berkuda.
Jumlah pemain biasanya selalu genap dan saling berhadapan sebagai
penerjemahan peperangan yang terkandung dalam cerita yang dibawakan.
Pada umumnya jumlah kuda lumping adalah 6, 8, dan 10. Untuk menambah
kemeriahan dalam pementasan jathilan ditambah beberapa penari yang
berperan sebagai :
1. Bejer dan Penthul
Bejer dan Penthul adalah badut yang
memakai topeng yang berwajah lucu. Dalam menari Bejer dan Penthul sering
membuat gerakan yang lucu. Kedua tokoh ini berperan sebagai abdi yang
tingkah polahnya sangat konyol dan sering membuat penonton tersenyum.
2. Barongan (barong)
Barong atau barong adalah tiruan sejenis
hewan seperti babi hutan dan sapi. Tugas Barongan ini bertugas mengawal
jalannya peperangan dalam cerita.
Unsur Magis dalam Jathilan
Jathilan sering dihubungkan dengan dunia
magis. Konon sebelum kuda lumping (jaran) dipergunakan harus diadakan
upacara terlebih dahulu. Upacara itu adalah semacam pengisian roh pada
kuda lumping. Biasanya kuda-kuda baru tersebut dibawa ke sebuah mata air
atau dalam istilah jawa disebut sendang untuk dimandikan dan diberi
minum. Setelah selesai diberi minum maka dipercaya kuda kepang tersebut
sudah berisi roh layaknya makhluk hidup. Upacara memberi minum kuda-kuda
kepang ini dikenal dengan upacara “Ngombeke”. Ketika kuda-kuda kepang
tersebut tidak dipergunakan lagi tidak serta merta dibuang begitu saja
namun harus ada upacara “pelarungan”. Upacara pelarungan ini
dilaksanakan di sungai yang mengalir deras. Menurut cerita para sesepuh
Jathilan, ketika kuda dihayutkan (dilarung) di sungai maka kuda-kuda
kepang tersebut akan bergerak di atas air layaknya kuda yang berlari di
atas air. Setelah bergerak di atas air maka kuda-kuda tersebut akan
tenggelam dan tidak pernah muncul lagi.
Situasi
magis terlihat nyata ketika sejumlah penari kesurupan atau dalam bahasa
jawa sering disebut istilah “ndadi” atau dalam bahasa asingnya dikenal
dengan istilah “trance”. Penari akan berperangai lain seolah segala
gerakan muncul dari roh lain yang masuk ke dalam raga pemainnya. Ada
juga yang sampai bisa memanjat pohon tinggi dan bahkan memakan beling
dan menggupas kelapa dengan giginya. Penari akan berhenti jika sudah
disembuhkan (disadarkan) oleh seorang tetua dari dari pertunjukkan
Jathilan.
Falsafah Jathilan
Tarian jathilan mengalami tiga tahap tarian. Pertama
adalah tahap permulaan yang berupa tarian. Tahap ini menggambarkan
kehidupan manusia yang lahir dan mengalami perkembangan kepribadian.
Tarian yang serempak dan kostum jathilan yang rapi dan indah merupakan
perwakilan dari norma dan aturan yang ada dalam kehidupan manusia. Kedua
adalah tahap “ndadi” atau kerasukan. Dalam tahap ini digambarkan bahwa
manusia mengalami masa kejayaan dan kadang-kadang lupa akan segala hal.
Tarian dalam kerasukan sudah tidak serempak dan beraturan, ini
menggambarkan manusia yang lupa pada norma dan peraturan serta kehidupan
harmonis sosial. Semua penari mengikuti kemauan sendiri. Ketiga
adalah tahap kesadaran (sadar dari kerasukan). Dalam tahap ini manusia
digambarkan sebagai makhluk Tuhan. Semua akan ingat kembali kepada Sang
Pencipta. Kesadaran dari kerasukan memberikan arti bahwa manusia sadar
akan jati diri dan kembali pada Sang Khalik.
No comments:
Post a Comment