Tuesday, July 19, 2016

Sejarah Asal Muasal Seni tari Kuda Lumping Bugisan Prambanan Klaten

Sejarah asal muasal seni tari Kuda Lumping ini tidak  ada catatan secara tertulis yang menjelaskan.Hanya sebuah riwayat saja yang diceritakan turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Kesenian Tari Kuda lumping adalah sebuah seni tari yang dimainkan dengan menggunakan peralatan berupa kuda tiruan yang dibuat dari anyaman bambu.Jika dilihat ritmis tarian kuda lumping ini sepertinya merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran jaman dulu ,yaitu sebuah pasukan kavaleri berkuda.Ini bisa dilihat dari gerakan seni tari kuda lumping yang dinamis,ritmis dan agresif,layaknya gerakan pasukan berkuda ditengah medan peperangan.























Mengenai Sejarah asal muasal seni tari Kuda Lumping konon katanya sih adalah bentuk dukungan rakyat jelata terhadap pasukan berkuda Pangeran Diponegoro dalam menghadapi penjajah Belanda. Ada pula versi yang menyebutkan, bahwa tari Kuda Lumping adalah menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah, yang dibantu oleh Sunan Kalijaga, melawan penjajah Belanda. Versi lain menyebutkan bahwa, tarian ini mengisahkan tentang latihan perang pasukan Mataram yang dipimpin Sultan Hamengku Buwono I, Raja Mataram, untuk menghadapi pasukan Belanda.

Kesenian tari kuda lumping ini lebih populer didaerah Jawa Timur khususnya Malang,Blitar,Tulungagung dan sekitarnya.Biasanya kuda lumping ini ditampilkan dalam event event tertentu misalnya menyambut Tamu Kehormatan,sebagai acara syukuran  atas Doa yang dikabulkan Yang Maha Kuasa.

Seringkali yang dikenal masyarakat adalah bahwa kuda lumping ini selalu melibatkan makhluk halus dalam atraksi atraksi supranatural dan berbau magis.Misalnya makan kaca,makan bara api,berjalan diatas pecahan beling dan bara api,mengangkat benda berat,disayat pisau,dibacok  dengan golok sampai menari dalam keadaan kesurupan.
 Sepertinya ini adalah merefleksikan bentuk kekuatan supranatural yang berkembang dilingkungan kerajaan Jawa.Merupakan  aspek non militer pada saat perlawanan terhadap penjajah Belanda

Benarkah Tari kuda lumping ini melibatkan makhluk halus?



Sebelum sebuah acara kuda lumping digelar selalu ada 2 orang pawang (pemimpin spiritual yang memiliki kekuatan supranatural) yang bertugas untuk mempertahankan cuaca agar tidak hujan.Dan yang satunya bertugas melakukan ritual pemanggilan makhluk halus dari empat penjuru mata angin.Disamping itu,datuk ini juga bertugas menjaga lingkungan dari gangguan ghaib ,memulihkan penari yang kesurupan dan mengendalikan makhluk halus yang merasuki pemain.Mereka juga memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar acara berlangsung aman dan tidak terjadi suatu  yang tidak diinginkan.Dipersiapkan pula sesaji (sajen) sebelum acara tari kuda lumping digelar berupa bunga , pisang rajamala ,ayam muda,nasi tumpeng,kemenyan dll.
Kalau saya melihat dengan kepercayaan saya ,mustahil atraksi atraksi berat yang mereka lakukan itu dilakukan dengan sadar .Dan kelihatan sekali jika  mereka memang dikendalikan oleh sesuatu yang bukan jati diri mereka sendiri.Dalam agama yang saya anut mempercayai kehidupan lain selain kehidupan manusia yaitu kehidupan alam Jin.Jadi saya meyakini bahwa yang merasuki raga mereka adalah makhluk halus dari golongan Jin.Karena saya menyaksikan sendiri ketika seorang pemimpin kuda lumping dialog dengan seorang yang kesurupan.Uniknya para pemain yang kesurupan itu berbicara dengan suara mengerang dengan logat jawa kuno.Salah satu pemain yang kesurupan mengatakan kalau dia sudah berumur 800 tahun,berasal dari gunung kidul dan mau pulang jika dipenihi permintaannya.Dan tentu saja yang berbicara itu bukan dari jiwa sendiri ,secara mana mungkin manusia bisa berumur 800 tahun.
Pemain kuda lumping  mengaku bahwa jika sedang kesurupan mereka tidak sadar sama sekali sehingga tidak mengingat apa apa yang dilakukan.
Bukan itu saja,penonton yang menyaksikan acara seni kuda lumping pun  bisa ikut kesurupan dan meloncat ketengah tengah arena.Dalam keadan tidak sadar,para penonton yang ikut kesurupan itupun ikut menari dengan gaya enerjik persis seperti seniman yang sudah berlatih bertahun tahun.
Mengenai keterlibatan makhluk halus ini sih tergantung dari kepercayaan masing masing.Bagi yang belum pernah melihat adegan seni kuda lumping ini datang saja ke daerah Malang.Jika beruntung Anda akan menyaksikan sajian dari seniman kuda Lumping dari Tumpang yang terkenal menegangkan dalam setiap araksinya.Anda pun bisa mengusulkan diri untuk ikut kesurupan kepada sang dukun kuda lumping,dengan senang hati permintaan Anda akan dituruti.

Bisa membahayakan.
Khususnya didaerah saya,Malang pertunjukan seni kuda lumping ini merupakan pagelaran seni yang bisa membahayakan baik penonton ataupun pemain itu sendiri.Karena pemain yang kesurupan bisa memiliki 3 kali lipat tenaga dari manusia normal dan bisa mengamuk jika diganggu.Bentuk keusilan penonton biasanya swiitt switt...dengan mulut.Pemain kesurupan yang marah bisa langsung menyerang jika terlepas dan bisa menemukan pelaku dan bahkan ngawur kepada siapa saja didekatnya.Yang ditakuti jika seorang pemain kesurupan yang marah sedang membawa Barongan (caplokan),karena dia akan memukulkan barongan yang terbuat dari kayu dengan bobot rata-rata 15-20 kg ke arah kepala.
Insiden seperti in suda seringkali terjadi dan bahkan ada yang terluka parah dikepala sampai dengan meninggal dunia.Menakutkan nggakkk?......




Secara umum dikenal ada 4 fragmen tarian kuda lumping antara lain 2 golongan tari Buto lawas,senterewe dan Pegon putri.
pada segmen Buto lawas inilah biasanya penari akan mulai kesurupan dan bahkan para penontonnya sekalian.Tari Buto lawas ditarikan oleh para pria saja dan terdiri dari 4 sampai 6 orang penari.

Properti yang biasanya dipakai dalam tari kuda lumping
  • Kuda boongan dari anyaman bambu.
  • Celeng (babi hutan boongan dari anyaman bambu.
  • Barongan (caplokan) Bentuk kepala Naga yang seram terbuat dari kayu dengan berat sekitar 15 kilograman.
Alat musik yang dipakai
Lebih sederhana dari seni karawitan,hanya terdiri dari kendang,gong,gamelan pelog,kenong dan selompret(terompet khas kuda lumping).Tetapi ada juga grup kesenian kuda lumping ini lebih memoderenisasi peralatan musik mereka seperti menambahkan Drum,gitar elektrik dan bass elektrik.Rupanya mereka ingin menampilkan kualitas yang bagus sekalian sound musiknya  juga.Wah yang ini malah lebih menarik nih.....Jika mau beli CD nya,banyak yang beredar di toko CD.

Monday, July 18, 2016

Kesenian jathilan atau Kuda Lumping dari Bugisan Prambanan Klaten Jawa Tengah

Festival Jathilan di Candi Plaosan Jawa Tengah

Dalam Rangka 1 Syawal 1437H Tepatnya di Candi Plaosan Bugisan Prambanan Klaten mengadakan Festival Kesenian jathilan atau Kuda Lumping.Area Pertujukan berada di lapangan Dekat dengan Tempat Pariwisata candi Plaosan,dimana tempat tersebut sekarang juga sudah menjadi milik Candi Plaosan untuk perluasan Lokasi.
Dari beberapa warga Sekitar dan Wisatawan Lokal serta Asing memadati Area Pertujukan jathilan karena kesenian ini adalah salah satu warisan yang masih dibudidayakan Oleh Masyarakat kami.

1. Berikut adalah Tarian Pembuka dari Beberapa kaum Muda Bugisan dengan kelompok bernama Dhulang Cempoko :


2. Berikut adalah beberapa Penari yang Telah Kerasukan dan Salah Satu penari yang kerasukan mau disembuhkan.





 Kebudayaan ini adalah peninggalan dari Para Leluhur atau Nenek Moyang Kami yang Masih Kami Lestarikan kebaradaanya.
Jathilan berasal dari kata jathil yang mengandung arti menimbulkan gerak reflek melonjak, sebagai tanda memperoleh kebahagiaan. Kebahagiaan ini tersirat dalam tarian yang diilhami oleh ceritera Panji yang mengisahkan pertemuan Panji Asmorobangun dengan Dewi Sekartaji.

Disebut juga jaran kepang karena tarian ini mempergunakan alat peraga berupa jaranan (kuda-kudaan) yang bahannya terbuat dari kepang (bambu yang dianyam), Sedangkan kuda lumping juga mempunyai arti yang sama karena lumping berarti kulit atau kulit bambu yang dianyam, sehingga secara bebas dapat diartikan sebagai pertunjukan dengan kuda-kudaan yang terbuat dari anyaman bambu atau kulit bambu.
Mengamati perkembangan kuda lumping dari masa ke masa akan tampak suatu bentuk tari yang bersumber dari cerita Panji, yaitu cerita yang berasal dari jaman kerajaan Jenggala dan Kediri. Ceritera ini mengalami kejayaan pada zaman kerajaan Majapahit. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya bentuk-bentuk seni tari yang bersumber pada cerita yang sama di tempat-tempat lain yang mendapat pengaruh kerajaan Majapahit.
Pada masa tersebut masyarakat memeluk agama Hindu, yang percaya akan adanya roh leluhur. Pertunjukan jathilan sebelumnya dimaksudkan untuk memanggil roh-roh halus dari nenek moyang. Dari tradisi yang turun temurun dan pengaruh situasi menyebkan pertunjukan kuda lumping dipentaskan hingga para pemainnya kesurupan (kehilangan kesadaran). Dalam keadaan demikian pemain mampu melakukan hal-hal di luar kemampuan manusia normal.
Kesurupan timbul diperkirakan sebagai akibat bunyi-bunyian yang khusus dan berirama statis dengan gerakan yang monoton. Pemain menari dengan berkonsentrasi terhadap keyakinan akan datangnya roh-roh. Mula-mula terasa pusing-pusing, seterusnya kehilangan daya pikir dan akhirnya menjadi kesurupan roh-roh halus.
Sesuai dengan perkembangan jaman, seni kuda lumping yang selalu ditampilkan untuk mendatangkan roh-roh itu berkembang menjadi kesenian yang ditampilkan hanya untuk menyongsong datangnya raja-raja atau pemimpin sebagai tamu resmi yang dihormati. Meskipun demikian dalam penampilannya masih juga ditemukan pemain-pemain yang kesurupan, tetapi pada prinsipnya bukan lagi bertujuan untuk mendatangkan roh-roh halus.
Sesuai dengan perkembangan jaman, kuda lumping tidak lagi dipertunjukkan dengan pemain yang kesurupan dan mendatangkan roh-roh halus. Bentuk tari kuda lumping jenis baru ini berkembang baik di beberapa tempat antara lain di Kabupaten Temanggung. Di sini kuda lumping sudah dikembangkan dengan kreasi-kreasi baru. sehingga gerak tari tidak lagi monoton. Para seniman dan seniwati dilatih dengan gerakan-gerakan baru yang dinamis dan indah sehingga dapat diterima oleh masyarakat luas.
Dengan demikian kini ada dua jenis tari kuda lumping yang dapat dinikmati, yaitu yang mengutamakan gerak tari yang enak ditonton dan jenis yang mengutamakan penampilan kesurupan pada pemainnya.Kesenian jathilan yang merupakan cikal-bakal tari kuda lumping tentu sangat berbeda dengan tarian yang ada sangat berbeda dengan tarian yang ada sekarang. Perbedaan tersebut tampak antara lain pada alat musik, bentuk kuda, busana penari dan sebagainya. Alat musik pada Kesenian jathilan cukup dengan satu kendang, dua bende, tiga angklung dan satu gong bambu. Sedangkan kuda lumping sudah banyak sekali tambahannya, antara lain, kecek, demung, kenong, kelinning dan lain-lain.
Demikian pula bentuk kuda lumping. Saat ini bentuk kuda lumping lebih mengutamakan keindahan, dan bentuknya dibuat lebih kecil dibandingkan dengan kuda pada jathilan. Busana penari juga berubah sesuai dengan kemajuan jaman. Kalau jaman dulu cukup berpakaian seadanya kini memakai kostum yang lengkap.
Bentuk tari lumping, seperti namanya menyesuaikan gerakannya dengan gerakan-gerakan kuda dan rangkaian ragam tarinya menggambarkan olah keprajuritan yang tegas dan berjiwa ksatria. Nama ragam tarinya antara lain, untu walang, kiring duap, congklang, tamburan, dan pincangan.

Fungsi pertunjukan mengalami perubahan sangat nyata. Kalau dulu lebih banyak berfungsi sebagai pertunjukan yang diselenggarakan ketika berlangsung upacara tradisional, misalnya ketika berlangsung upacara bersih desa, kini lebih banyak berfungsi sebagai penyambutan tamu atau hiburan semata-mata. Dengan demikian pementasannya tidak lagi terikat oleh waktu dan tempat, tetapi dapat diselenggarakan di sembarang tempat.
Bentuk pementasan kuda lumping juga sudah beraneka ragam dan disajikan sesuai dengan keperluan. Untuk kepentingan hari-hari besar atau pun keramaian desa sering dipentaskan kuda lumping dalam bentuk unit. Pemainnya terdiri dari tujuh hingga dua puluh satu orang. Dalam kegiatan yang lebih besar seperti peresmian proyek-proyek besar, sering dipentaskan dalam bentuk masai. Pemainnya biasanya terdiri dari dua puluh lima hingga seribu orang.
Di samping itu dapat pula dipertunjukkan dalam bentuk pawai. Pemainnya cukup tujuh hingga dua puluh satu orang. Dalam bentuk pawai diperlukan gerakan-gerakan tertentu yang menarik perhatian bila akan melewati panggung kehormatan.
Bentuk lainnya adalah bentuk sendratari. Bentuk seperti ini bisanya diselenggarakan di panggung atau gedung pertunjukan. Ceritera yang menjadi lakon dalam pertunjukan seperti ini biasanya lakon dari cerita Panji, yaitu lakon Asmorobangun dan lakon Kelono Asmorodono.






Friday, November 6, 2015

Kesenian Jarang kepang kebudayaan dari yogjakarta dan Jawa Tengah Indonesia

Jathilan merupakan tarian yang dikenal di Yogyakarta dan Sebagian Jawa Tengah. Tarian yang biasa disebut Jaran Kepang ini mempertontonkan kegagahan prajurit di medan perang. Penari menggunakan kuda tiruan dari anyaman bambu dan diiringi dengan musik yang khas dengan gamelan. ‘jaranne jan thil-thilan tenan’ (kudanya benar-benar joget tak beraturan). Dari namanya jelas kuda merupakan ciri khas dari kesenian jatilan ini.
Di Sleman kesenian jathilan digemari masyarakat dan berkembang cukup baik. Terbukti dengan banyaknya grup kesenian jathilan yang tersebar dihampir seluruh desa se-Kabupaten Sleman. Dinas Kebudayan dan Pariwisata Sleman pernah mengadakan festival jathilan mendapat sambutan baik dari pelaku kesenian jatilan. Sebanyak 30 grup kesenian jatilan ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

Sebuah warisan budaya tradisional yang harus dipelihara kelestariannya. Di tengah kepungan arus  global, kebudayaan lokal seperti jathilan ini kadang tersisihkan oleh trend baru yang berkembang. Jathilan di Sleman harus terus dijaga, sebab kesenian masyarakat sebenarnya tertari pada hiburan ini. Di sisi lain, kesenian jathilan ini adalah asli dari budaya bangsa, jangan sampai kita terlena dan diklaim oleh bangsa lain.
Kesenian jathilan harus semakin berkembang dengan kreasi dan inovasi yang baik sehingga dapat menjadi tontonan yang menarik  bagi masyarakat. Selain itu, dengan event layaknya festival, sebagai lahan bertemunya para seniman jatilan akan dapat dimanfaatkan untuk saling mengevaluasi kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sehingga akan menambah wawasan untuk meningkatkan kualitas kesenian yang dimiliki.
Pemerintah dalam arti Dinas Kebudayaan dan Pariwisata harus memberikan dukungan kepada kesenian ini dalam bentuk apapun. Di beberapa daerah-daerah lain kesenian jathilan semakin jarang. Kesenian tradisional seperti jathilan ini adalah kesenian yang termasuk langka. Diperlukan adanya pelestarian terhadap kesenian jathilan ini. Kehadiran seni tradisional semula untuk kemuliaan hidup manusia. Menunjukan keberagaman budaya yang mencerminkan kearifan budaya lokal. Kesenian daerah harus terus dibumikan di tanah air ini.

Thursday, November 5, 2015

Kesenian Jathilan Jawa Tengah Indonesia

Kesenian Jathilan Jawa Tengah Indonesia

Kesenian Jathilan Bugisan
Jatilan adalah sebuah kesenian yang menyatukan antara unsur gerakan tari dengan magis. Jenis kesenian ini dimainkan dengan properti berupa kuda tiruan, yang terbuat dari anyaman bambu atau kepang. Kesenian yang juga sering disebut dengan nama jaran kepang ini dapat dijumpai di daerah-daerah Jawa.

Mengenai asal-usul atau awal mula dari kesenian jatilan ini, tidak ada catatan sejarah yang dapat menjelaskan dengan rinci, hanya cerita-cerita verbal yang berkembang dari satu generasi kegenerasi lain. Dalam hal ini, ada beberapa versi tentang asal-usul atau awal mula adanya kesenian jatilan ini, diantaranya adalah sebagai berikut. Konon, jatilan ini yang menggunakan properti berupa kuda tiruan yang terbuat dari bambu ini merupakan bentuk apresiasi dan dukungan rakyat jelata terhadap pasukan berkuda Pangeran Diponegoro dalam menghadapi penjajah Belanda. Selain itu, ada versi lain yang menyebutkan, bahwa jatilan menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah, yang dibantu oleh Sunan Kalijaga, melawan penjajah Belanda. Adapun versi lain menyebutkan bahwa tarian ini mengisahkan tentang latihan perang pasukan Mataram yang dipimpin Sultan Hamengku Buwono I, raja Mataram untuk mengadapi pasukan Belanda.

Pagelaran kesenian ini dimulai dengan tari-tarian oleh para penari yang gerakannya sangat pelan tetapi kemudian gerakanya perlahan-lahan menjadi sangat dinamis mengikuti suara gamelan yang dimainkan. Gamelan untuk mengiringi jatilan ini cukup sederhana, hanya terdiri dari drum, kendang, kenong, gong, dan slompret, yaitu seruling dengan bunyi melengking. Lagu-lagu yang dibawakan dalam mengiringi tarian, biasanya berisikan himbauan agar manusia senantiasa melakukan perbuatan baik dan selalu ingat pada Sang Pencipta, namun ada juga yang menyanyikan lagu-lagu lain. Setelah sekian lama, para penari kerasukan roh halus sehingga hampir tidak sadar dengan apa yang mereka lakukan, mereka melakukan gerakan-gerakan yang sangat dinamis mengikuti rancaknya suara gamelan yang dimainkan.

Di samping para penari dan para pemain gamelan, dalam pagelaran jatilan pasti ada pawang roh yaitu orang yang bisa “mengendalikan”roh-roh halus yang merasuki para penari. Pawang dalam setiap pertunjukan jatilan ini adalah orang yang paling penting karena berperan sebagai pengendali sekaligus pengatur lancarnya pertunjukan dan menjamin keselamatan para pemainnya. Tugas lain dari pawang adalah menyadarkan atau mengeluarkan roh halus yang merasuki penari jika dirasa sudah cukup lama atau roh yang merasukinya telah menjadi sulit untuk dikendalikan.

Selain melakukan gerakan-gerakan yang sangat dinamis mengikuti suara gamelan pengiring, para penari itu juga melakukan atraksi-atraksi berbahaya yang tidak dapat dinalar oleh akal sehat. Di antaranya adalah mereka dapat dengan mudah memakan benda-benda tajam seperti silet, pecahan kaca, menyayat lengan dengan golok bahkan lampu tanpa terluka atau merasakan sakit. Atraksi ini dipercaya merefleksikan kekuatan supranatural yang pada jaman dahulu berkembang di lingkungan kerajaan Jawa, dan merupakan aspek nonmiliter yang dipergunakan untuk melawan pasukan Belanda.

Selain mengandung unsur hiburan dan religi, kesenian tradisional jatilan ini seringkali juga mengandung unsur ritual karena sebelum pagelaran dimulai, biasanya seorang pawang atau dukun melakukan suatu ritual yang intinya memohon ijin pada yang menguasai tempat tersebut yang biasanya ditempat terbuka supaya tidak menggangu jalannya pagelaran dan demi keselamatan para penarinya.

Pagelaran ini seperti pagelaran seni yang lainnya yang umumnya mempunyai suatu alur cerita. Jadi biasanya jatilan ini membawakan sebuah cerita yang disampaikan dalam bentuk tarian. Saat ini tidak banyak orang yang melihat pertunjukan seni dari sisi pakem bentuk kesenian tersebut melainkan dari sisi hiburannya, yang mereka lihat dan lebih mereka senangi adalah bagian dimana para pemain jathilan ini seperti kerasukan dan melakukan atraksi-atraksi berbahaya. Jadi masyarakat melihat Jathilan sebagai sebuah pertunjukan tempat pemain kerasukan. Bukan sebagai pertunjukan yang ingin bercerita tentang suatu kisah.

Kesenian jatilan yang dipertunjukan pada upacara adat Mbah Bergas diawali dengan kesenian warok-warokan, yaitu suatu bentuk kesenian yang berjudul Suminten Edan”. Lakon ini bercerita tentang Suromenggolo yang mempunyai anak bernama Cempluk. Suromenggolo mempunyai saudara seperguruan yang bernama Surobangsat. Surobangsat dan Suromenggolo telah lama tidak berjumpa sehingga ia mengunjungi Suromenggolo. Surobangsat mempunyai anak yang bernama Gentho. Surobangsat bermaksud menjodohkan Gentho dengan cempluk. Namun Suromenggolo tidak setuju. Kemudian terjadilah pertarungan antara keduanya. Surobangsat kalah setelah Suromenggolo mengeluarkan aji-aji pamungkas yang berupa kolor.

Setelah pertunjukan warok-warokan selesai, dilanjutkan dengan pertunjukan tarian oleh pasukan buto yang berjumlah sepuluh orang penari. Tarian ini sebagai kreasi atau sebagai perkembangan dari pertunjukkan jatilan untuk lebih memeriahkan pertunjukan jatilan dan menarik perhatian warga untuk menyaksikan. Gerakan-gerakan tarian ini sangat dinamis dan enerjik, gerakan yang serempak para penari membuat para penonton terpesona.

Aksesoris yang dipakai para penari antara lain gelang kaki, gelang tangan, dan topeng buto yang berwujud hewan-hewan seperti harimau, domba, dan singa. Gerakan yang sangat cepat dan lincah dari para penari membuat gelang kaki yang mereka pakai menimbulkan irama yang rancak.

Setelah pertunjukan tarian buto selesai kemudian dilanjutkan tarian jatilan. Jumlah penari jatilan ada sepuluh orang. Aksesoris yang digunakan antara lain gelang tangan, gelang kaki, ikat lengan, kalung (kace), mahkota (kupluk Panji), dan keris. Makna dari busana dan aksesoris yang digunakan adalah meniru tokoh Panji Asmarabangun, yaitu putra dari kerajaan Jenggala Manik. Dalam pertunjukan jatilan ini juga ada tiga pawang yang bertugas untuk mengatur, menjaga dan menjamin lancarnya pertunjukan, pawang-pawang ini juga bertugas untuk menyadarkan para penari yang kerasukan.

Dalam pertunjukan jatilan juga disediakan beberapa jenis sesaji antara lain pisang raja satu tangkep, jajanan pasar yang berupa makanan-makanan tradisional, tumpeng robyong yaitu tumpeng robyong yang dihias dengan kubis, dawet, beraneka macam kembang, dupa Cina dan menyan, ingkung klubuk (ayam hidup) yang digunakan sebagai sarana pemanggilan makhluk halus dan lain-lain.

Jatilan yang ditampilkan dalam upacara adat Mbah Bergas merupakan sajian dari Paguyuban Kesenian Kuda Lumping Putra Manunggal. Paguyuban ini didirikan sekitar pada tahun 1992. Para penari jatilan berserta penabuh gamelan kurang lebih berjumlah empat puluh orang. Mereka berlatih setiap satu bulan sekali pada pertengahan bulan (biasanya pada malam minggu). Cerita yang disajikan adalah mengadopsi dari Jatilan klasik, yaitu tentang cerita tokoh Kresna. Sedangkan pada warok-warokan selain menampilkan cerita “Suminten Edan” juga mengambil cerita dari babad-babad Jawa, antara lain perang Prabu Baka denga

Pergelaran Kesenian Jatilan atau Kuda Lumping di Jawa tengah Indonesia


Pagelaran Tari Kuda Lumping

Dalam pementasannya, tari kuda lumping ini menghadirkan 4 fragmen tarian yaitu 2 kali tari Buto Lawas, tari Senterewe, dan tari Begon Putri.
Pada fragmen Buto Lawas, biasanya ditarikan oleh para pria saja dan terdiri dari 4 sampai 6 orang penari. Beberapa penari muda menunggangi kuda anyaman bambu dan menari mengikuti alunan musik. Pada bagian inilah, para penari Buto Lawas dapat mengalami kesurupan atau kerasukan roh halus. Para penonton pun tidak luput dari fenomena kerasukan ini. Banyak warga sekitar yang menyaksikan pagelaran menjadi kesurupan dan ikut menari bersama para penari. Dalam keadaan tidak sadar, mereka terus menari dengan gerakan enerjik dan terlihat kompak dengan para penari lainnya.

Untuk memulihkan kesadaran para penari dan penonton yang kerasukan, dalam setiap pagelaran selalu hadir para warok, yaitu orang yang memiliki kemampuan supranatural yang kehadirannya dapat dikenali melalui baju serba hitam bergaris merah dengan kumis tebal. Para warok ini akan memberikan penawar hingga kesadaran para penari maupun penonton kembali pulih.
Pada fragmen selanjutnya, penari pria dan wanita bergabung membawakan tari senterewe.
Pada fragmen terakhir, dengan gerakan-gerakan yang lebih santai, enam orang wanita membawakan tari Begon Putri, yang merupakan tarian penutup dari seluruh rangkaian atraksi tari kuda lumping.
 
Jenis Tarian Kuda Lumping
  1. Jaranan Thek Ponorogo
  2. Jaranan Kediri, kediri
  3. Jaranan sentherewe, Tulungagung
  4. Jaranan Turonggo Yakso,Trenggalek
  5. Jaranan Buto, banyuwangi
  6. Jaranan Dor, Jombang
  7. Jaran Sang Hyang, Bali
  8. Jathilan Dipenogoro, Yogya dan Jawa Tengah
  9. Jathilan Hamengkubuwono, Yogya dan Jawa Tengah
 

Sejarah Tari Kuda Lumping dari Jawa Tengah Indonesia

Sejarah Tari Kuda Lumping

Sangat sulit menemukan sumber catatan sejarah yang menjelaskan tentang asal muasal tarian ini, hanya dari cerita rakyat yang diturunkan dari generasi ke kegenarasi. Namun ada 2 cerita rakyat yang berhasil penulis dapat, yaitu :
 

Versi 1
Bahwa tari kuda lumping menggambarkan kisah seorang pasukan pemuda cantik bergelar Jathil penunggang kuda putih berambut emas, berekor emas, serta memiliki sayap emas yang membantu pertempuran kerajaan bantarangin melawan pasukan penunggang babi hutan dari kerajaan lodaya pada serial legenda reyog abad ke 8.

Versi 2
Kesenian Kuda Lumping berasal dari daerah Ponorogo Jawa Timur. Menurut sebuah legenda, Raja Ponorogo selalu kalah dalam peperangan. Sang raja masygul dan gundah. Akhirnya ia pergi ke sebuah pertapaan. Ketika sedang khusu-khusunya memohon kepada Dewa Jawata Sang Marasanga, ia dikejutkan oleh suara tankatingalan. Suara itu ternyata wangsit dari Sang Jawata. Isinya apabila raja ingin menang perang, ia harus menyiapkan sepasukan berkuda. Ketika pergi ke medan perang, para prajuritpenunggang kuda itu diiringi dengan "bande" dan rawe-rawe.
Konon, bande dan rawe-rawe itu menggugah semangat menyala membabi buta di kalangan para prajurit penunggang kuda. Ketika bertempur mereka mabuk tidak sadarkan diri tapi dengan semangat keberanian yang luar biasa menyerang musuh­-musuhnya. Demikianlah dalam setiap peperangan para prajurit bergerak dalam keadaankalap dan memenggal kepala musuh-musuhnya dengan kekuatan yang tangguh. Akhimya. lasykar Raja selalu memperoleh kemenangan.

Untuk menghormati Dewa sang pemberi wangsit dan memperingati kemenangan demi kemenangan kemudian setiap tahun diadakan upacara kebaktian dengan suguhan acara berupa tarian menunggang kuda-kudaan yang menggambarkan kepahlawanan, sebagai suatu prosesi dari prajurit penunggang kuda yang kalap dan menyerbu musuh-musuhnya. Selanjutnya tarian menunggang kuda-kudaan itu berubah menjadi sebuah kesenian yang digemari masyarakat. Tarian itu kemudian diberi nama Kuda Lumping.
Tari kuda lumping merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran sebuah pasukan berkuda atau kavaleri. Hal ini terlihat dari gerakan-gerakan ritmis, dinamis, dan agresif, melalui kibasan anyaman bambu, menirukan gerakan layaknya seekor kuda di tengah peperangan.
Di Jawa Timur terdapat di beberapa daerah, seperti jamban, kolong jembatan, rel kereta, dan daerah-daerah lainnya. Dan seperti halnya tarian lain yang ada di Indonesia kuda lumping biasanya ditampilkan pada ajang-ajang tertentu, seperti menyambut tamu kehormatan, dan sebagai ucapan syukur, atas hajat yang dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa.

Saturday, October 11, 2014

SEJARAH TARIAN KUDA LUMPING & TOPENG IRENG

SEJARAH TARIAN KUDA LUMPING & TOPENG IRENG

Kuda Lumping dan Topeng Ireng


 1. Kuda Lumping/jathilan
Kesenian jathilan ini merupakan salah satu jenis kesenian rakyat yang ada dan berkembang di daerah pegunungan menoreh, tepatnya di sebelah selatan candi Borobudur. Kesenian ini memiliki latar belakang yang berhubungan dengan sejarah perang gerilya Pangeran Diponegoro. Ada beberapa sumber yang menyatakan bahwa kesenian jathilan ini berasal dari jawa timur,tepatnya kesenian Reog Ponorogo.dikatakan sebagai pemain Jothil.

foto ketika kerasukan/dadi istilah jawanya (Rudi Prasetyo)


Namun di Borobudur,kesenian jathilan memiliki sejarah yang berbeda.Mereka mendapatkan inspirasi dari melihat pasukan pangeran diponegoro yang sedang melakukan perang gerilya di sepanjang pegunungan Menoreh. Seringnya masyarakat Borobudur di pegunungan  waktu itu melihat dan menyaksikan pasukan gerilya Pangeran.Diponegoro membuat mereka memiliki kedekatan emosional,dengan peristiwa sejarah tersebut. Lalu mereka mengekspresikan rangsang visual mereka dalam bentuk kesenian yang diiringi dengan musik gamelan yang diwujudkan dengan penari yang menaiki kuda yang terbuat dari kepang/anyaman bambu. Maka kesenian jathilan ini kadang juga dinamakan dengan kesenian kuda Kepang/kuda Lumping(bahasa jawa).
Kesenian ini juga menggunakan media trance untuk berhubungan dengan kekuatan gaib yang ada dan mereka yakini menjadi sesepuh desa mereka. Ada beberapa desa masih memiliki keyakinan akan hal tersebut. Salah satu contoh yang sampai saat ini masih ereka lakukan adalah, Setiap mereka melakukan pementasan mereka harus membawa air dari mata air dimana terdapat batu bekas telapak kuda, yang dipercaya sebagai bekas telapak kaki kuda Pangeran Diponegoro. Tradisi ini masih mereka bawa hingga sekarang dan hal ini sudah menjadi tradisi mereka dalam menggelar kesenian jathilan ini disetiap pertunjukan.
Trance dalam pertunjukan jathilan juga kadang dipergunakan untuk menolak bala/tolak bala atau menyembuhkan penyakit bagi orang yang mempercayainya. Kekuatan alam ini sampai sekarang kadang masih mereka lakukan dalam setiap hajatan. Masyarakat mereka yang memiliki kaul/ kehendak untuk menggunakan kesenian ini untuk merayakan sebuah perayaan, baik khitanan, perkawinan bahkan nadar dari seseorang yang memang menghendakinya.

Dibawah adalah atraksi ketika process penyebuhan/mengeluarkan roh dari si penari jathilan oleh Bp. Ngatno



2. Topeng Ireng
Topeng Ireng adalah tarian rakyat kreasi baru yang merupakan metamorfosis dari kesenian Kubro Siswo. Asal muasal mengenai siapa yang menciptakan kesenian Topeng Ireng untuk pertama kalinya belum jelas dan rancu hingga saat ini. Namun, berdasarkan cerita yang beredar di masyarakat, kesenian Topeng Ireng mulai berkembang di tengah masyarakat lereng Merapi Merbabu dan Sumbing pada tahun 1960-an.
nama Topeng Ireng berasal dari kata Toto Lempeng Irama Kenceng yang menata hidup secara baik dengan irama yang dinamis. “Pada masa pendudukan kolonial Belanda, pemerintahan setempat melarang masyarakat berlatih silat sehingga warga Desa Tuk Songo, yang tinggal dekat Candi Borobudur, mengembangkan berbagai gerakan silat itu menjadi tarian rakyat,”
Yang jelas tarian itu diiringi dengan musik gamelan dan tembang Jawa yang intinya menyangkut berbagai nasihat tentang kebaikan hidup dan penyebaran agama Islam, lanjutnya. “Jika kita pelajari lagi ,ada filosofi yang mendalam yang terpancar lewat lagu-lagu pengiring dan gerakan-gerakan mereka yang banyak mempunyai arti. Jadi jika menonton Topeng Ireng masyarakat juga jangan terpaku dengan gerakannya saja tapi juga harus bisa mencerna pesan-pesan yang tertuang lewat lagunya,
kesenian tradisi Topeng Ireng sudah mendarah daging di beberapa wilayah di Magelang. “Saya tidak tahu kenapa dari tahun ketahun jumlah anak muda yang mau belajar tarian ini semakin meningkat. Sekarang ini jumlah pemain Topeng Ireng di Desa Ndaleman Kidul, Dusun Dudan, Kecamatan Pakis, Magelang tercatat sudah mencapai 75 orang yang terdiri dari 63 putra dan 12 putri,” ujar Supras yang juga seorang Kadus di kampung asal kelompok Topeng Ireng tersebut.
Keistimewaan Daya tarik utama yang dimiliki oleh kesenian Topeng Ireng tentu saja terletak pada kostum para penarinya. Hiasan bulu warna- warni serupa mahkota kepala suku Indian menghiasi kepala setiap penari
Sedangkan kostum bagian bawah seperti pakaian suku Dayak, rok berumbai-rumbai. Untuk alas kaki biasanya mengenakan sepatu gladiator atau sepatu boot dengan gelang kelintingan yang hampir 200 biji setiap pemainnya dan menimbulkan suara riuh gemerincing di tiap gerakannya.
Setiap pertunjukan Topeng Ireng akan riuh rendah diiringi berbagai bunyi-bunyian dan suara. Mulai dari suara hentakan kaki yang menimbulkan bunyi gemerincing berkepanjangan, suara teriakan para penari, suara musik yang mengiringi, hingga suara penyanyi dan para penonton.
Musik yang biasa digunakan untuk mengiringi pertunjukan Topeng Ireng adalah alat musik sederhana seperti gamelan, kendang, terbang, bende, seruling, dan rebana. Alunan musik ritmis yang tercipta akan menyatu dengan gerak dan teriakan para penari sehingga pertunjukan Topeng Ireng terlihat atraktif, penuh dengan kedinamisan dan religiusitas.
Dayakan sebenarnya merupakan istilah bagi sekelompok wong alasan, yaitu suku pedalaman yang belum mengenal dunia luar. Istilah ini secara salah kaprah memang mengacu kepada suku Dayak Kalimantan. Namun demikian bila dilihat secara sepintas dari kostum yang dikenakan para peraga kesenian ini, lebih mirip dengan orang Indian, suku asli di benua Amerika.
Tapi dayakan yang kita bahas ini bukan dayakan suku pedalaman,tapi adalah suatu kesenian asal magelang yang berupa tarian khas yang diiringi dengan musik yang khas pula,para penari memakai pakaian dan accesoris yang menyerupai orang indian (pakaian rumbai dan tutup kepala dari bulu unggas)
Penggunaan bulu-buluan dalam asesoris pakaian barangkali yang menjadikan kesenian jenis ini disebut sebagai dayakan, karena memang orang Dayak sering juga memakai bulu elang ataupun burung tontong untuk perhiasan diri. Atau barangkali pengetahuan orang kampung mengenai nama-nama suku di dunia baru mengenal sebatas suku Dayak sebagai suku di luar suku Jawa. Atau bisa jadi karena pengucapan dayakan lebih enak didengar daripada kata indianan, atau indiaan. Atau bahkan mungkin rasa fanatisme dan melu handarbeni, serta rasa toleransi budaya sebagai sesama putra-putri bertanah air Indonesia. Ahh nggak jelas memang ontologi historis dayakan
Dayakan bisa diperkirakan merupakan pengembangan dari kesenian kobra siswa. Dilihat dari kemiripan ubo rambe gamelan utama yang digunakan, seperti bedug/drum, dan bende nampak sekali kesamaannya. Ditinjau dari lagu pengiring yang dinyanyikanpun ada kemiripannya dimana banyak diperdengarkan lagu-lagu bertemakan dakwah, di samping lagu-lagu nasional, mocopatan, dan campur sari modern.
Hanya saja memang terdapat sedikit modifikasi dalam hal formasi dan tata cara berbaris yang lebih dinamis dan tanpa pakem yang kaku seperti dalam kobra. Penambahan pengiring seperti organ, siter atau kecapi semakin menambah dinamisasi seni dayakan. Namun satu yang pasti dapat dilihat secara kasat mata, ya di perbedaan kostum itu tadi.
DayakanTidak hanya sampai di situ, saat inipun sudah berkembang nama varian dari seni dayakan, seperti nama topeng ireng, dayakan grasakan dan lainnya. Untuk topeng ireng memang tak berbeda dengan dayakan klasik, hanya saja seni merias muka, dan kostum lebih ngejreng. Mereka kadang mengenakan mahkota bulu imitasi. Adapun dayakan grasakan lebih merupakan kreasi baru dengan memanfaatkan tumbuhan sekitar sebagai kostum, seperti daun kluwih, dan pakis-pakisan. Jadi bisa dibilang lebih natural dan alamiah. Kesamaan kesemua varian dayakan yaitu pengenaan klinthing di sekujur kaki para penari. Ini katanya tidak bisa ditawar-tawar
Saat ini kesenian dayakan tidak hanya berkembang di daerah Blondho dan Paremono sebagai daerah pionir saja. Bisa dibilang hampir di setiap sudut kecamatan yang tersebar di wilayah Kabupaten Magelang memiliki paguyuban dayakan. Sebut saja Borobudur, Pakis, atau Ngablak, bahkan Dukun adalah beberapa kecamatan yang memiliki banyak paguyuban. Intinya semakin luas masyarakat yang merasa handarbeni kesenian satu ini.
Di samping ditanggap untuk acara hajatan semisal pernikahan, atau sunatan, seni dayakan sering juga dipentaskan untuk acara perayaan seperti merti desa, tujuh belasan, karnaval, sampai pasang mustoko mesjid. Semoga ke depan seni dayakan bisa lebih ngrembaka dan berkembang sehingga bisa menjadi ikon bagi Kabupaten Magelang, atau bahkan mampu nyundul langit menjadi salah satu warisan budaya bangsa bahkan dunia.